Dikisahkan sorang ayah mengajak anaknya pergi ke luar kota untuk berdagang, dengan alasan bahwa pendidikan terbaik adalah gabungan antara teori dan praktek sekaligus. Ia ingin mengajarkan anaknya supaya bisa meneruskan usaha ayahnya tersebut.
Ada dua pelajaran yang akan diajarkan pada anaknya. Pertama respek pada orang tua. Kedua mengerti bahwa mencari nafkah tidaklah mudah, sehingga anaknya diharapkan bisa menghargai jerih payah kedua orang tuanya, hidup lebih bertanggung jawab dan tidak berfoya-foya.
Dalam menempuh perjalanan, anak dan ayah ini ditemani seekor keledai kecil, yang biasa digunakan ayahnya. Karena keledai ini kecil, sang ayah rela berjalan menuntun keledainya sementara anaknya disuruh untuk menunggangi keledai. Dalam perjalanan mereka berpapasan dengan sekelompok orang dan berbisik – bisik membicarakan mereka berdua. Diantara rombongan tadi ada yang berkata” Kasihan benar si ayah, sudah tua masih harus berjalan kaki. Sementara anaknya yang jauh lebih muda tidak tahu diri, seharusnya ia yang berjalan dan merelakan ayahnya yang naik keledai. Sungguh malang nasib si ayah punya anak tidak berbakti.”
Mendengar celotahan itu sang anak merasa malu, Ia pun meminta ayahnya untuk naik keledai dan giliran si anak yang berjalan kaki. Selang berapa lama mereka berpapasan dengan sekolompok orang berbeda. Diantara mereka ada yangberkata, “ Benar-benar orang tua jahat, anak sekecil itu disuruh berjalan kaki diatas terik matahari, sementara ia enak-enakan duduk diatas keledai tanpa merasa bersalah sedikitpun.”
Si anak dan ayahnya saling berpandangan. Lantas si ayah menarik anaknya untuk naik ke atas keledai, untuk memeruskan perjalanannya.
Ditengah perjalanan mereka bertemu rombongan ketiga. Sama hal nya dengan rombongan pertama dan kedua, mereka mengumpat membicarakan si anak dan si ayah. “ Sungguh orang yang jahat dan tidak punya rasa kasihan, keledai sekecil dan sekurus itu harus ditunggangi 2 orang berbadan besar, belum lagi beban perbekalan yang cukup berat. Benar-benar manusia yang tidak punya rasa kasihan.”
Si ayah dan si anak semakin bingung, begini slah begitu salah... menjadi serba salah. Akhirnya mereka berdua turun, dan berjalan beriringan. Sementara si keledai hanya membawa beban perbekalannya saja. Dan tiba-tiba......mereka ditagetkan oleh sekelompok orang yang melewati mereka. Sambil tertawa salah satu dari mereka berkata, “ Bapak dan anak ini syngguh gila, punya keledai tidak dinaiki, malah dituntun. Kenapa tidak digendong saja sekalian? Benar-benar ada orang sedemikian bodohnya di dunia ini. Sungguh.....mereka lebih bodoh dari keledai !!”
Kali ini si ayah tidak lagi bingung. Ia meraih anaknya untuk dinaikkan ke atas keledai. Sebelum anaknya protes, si ayah berkata, “Hidup haruslah punya pendirian. Telinga memang untuk mendengar. Tapi kita punya otak yang bertugas menyaring semua yang tertangkap panca indra kita. Sementara hati kita punya tugas untuk menimbang, merasakan mana yang tepat dan benar. Dari awal kita sudah keliru, hanya menggunakan telinga untuk mendengar. Kita membiarkan otak dan hati kita tak berfungsi. “Kita dipermainkan keadaan dari luar.....itu tidak boleh terjadi. Kita harus punya sikap, pendirian dan berani mempertahankan pendirian kita dengan segala konsekuensinya.” kata si ayah. Akhirnya si ayah menaikkan anaknya pada punggung keledai, karena merasa anaknya masih kecil dan dia masih kuat untuk berjalan. Namun suatu saat nanti si anak lah yang harus merawat dan menjaga ayahnya. Itulah kehidupan !!!
Meski masih kecil si anak cukup cerdas mendengar wejangan dari ayahnya. Didalam hatinya tertanam 3 hal penting;
Pertama: Rasa hormat dan hutang budi atas kasih sayang pada sang ayah.
Kedua; Ia sadar dalam hidup orang harus memilih, bersikap, punya prinsip dan pendirian.
Ketiga; Sudut pandang setiap orang sangatlah beragam, berbeda dan acap kali bertentangan.
Tiada yang mutlak benar dan tiada yang mutlak salah. Mengikuti semua pendapat akan menyesatkan, tapi memilih salah satu juga belum tentu benar. Tapi itulah resiko. Orang besar, seorang pemimpin harus berani mengambil resiko tentu dengan perhitungan dan pertimbangan yang matang.
ban mobil & motor
Minggu, 02 Oktober 2011
8x3=23
Menceritakan tentang seorang Guru Bijak yang menghadapi sebuah kasus pertaruhan antara dua muridnya, si Bodoh dan si Putih. Dimana si Bodoh menantang si Putih dengan soal matematika; 8 x 3
Si Putih menyakini bahwa 8 x 3 = 24, begitu pula si Bodoh merasa bahwa 8 x 3 = 23. Karena masing-masing merasa benar. Si Bodoh berani bertaruh dihadapan gurunya dengan nyawanya. Dia berani menggorok lehernya karena keyakinannya, tapi dia hanya meminta si Putih untuk melepaskan topinya jika si Putih yang kalah.
Akhirnya mereka meminta Sang Guru Bijak untuk menentukan mana yang benar. Dan ...... alangkah kagetnya si Putih dengan keputusan Sang Guru Bijak. Dia mengatakan yang benar adalah 8 x 3 = 23. Dengan penuh rasa kecewa si Putih membanting topinya karena merasa dibodohi oleh gurunya yang selama ini dia junjung tinggi. Respeknya terhadap Sang Guru merosot ke titik terendah. Akhirnya dia meninggalkan perguruannya karena dia tidak mau lagi hidup ditengah-tengah kebohongan, kemunafikan dan kepura-puraan. Saking kesalnya pada Sang Guru, si Putih pergi tanpa pamit dan berterimakasih. Sebelum pergi Sang Guru sempat bernasihat pada si Putih; “Jika dalam perjalanan terjadi hujan lebat, hati-hatilah dan jangan bernaung dibawah pohon besar, karena pohon itu akan tumbang dan menimpamu!”
Ditengah perjalanan terjadi hujan yang amat deras disertai angin kencang dan kilat yang menyambar –nyambar. Si Putih tercekat kaget manakala matanya melihat ada pohon besar diatasnya, secara reflek ia pun menghindar dari pohon besar tersebut. Dan tiba-tiba.......pohon besar itu tumbang diiringi suara gemuruh. Hampir saja si Putih tewas tertimpa pohon besar tersebut.
Atas kejadian tadi si Putih tersadar dan ingat atas nasihat terakhir Sang Guru dan mengakui bahwa Sang Guru bukanlah manusia biasa. Dia bisa membaca apa yang akan terjadi. Akhirnya ia berbalik arah dan kembali menuju rumah Sang Guru untuk meminta maaf dan minta diterima kembali sebagai murid.
Sesampainya di rumah Sang Guru, si Putih kaget karena Sang Guru sudah menunggu di depan pintu. Dia seolah tahu kalau muridnya akan kembali. Dengan tersenyum santai Sang Guru berkata “ Putih..., 8 x 3 ya 24, tapi kalau tadi kukatakan 8 x 3 = 24 maka kamu akan menyesal seumur hidup !!. Kamu akan merasa menjadi pembunuh saudaramu sendiri, sepanjang hayat penyesalan apapun tidak ada gunanya. Hidupmu akan tersiksa selamanya. 8 x 3 = 24 hanyalah kebenaran kecil, kebenaran matematis. Namun 8 x 3 = 23 dalam konteks tadi adalah kebenaran besar, karena menyangkut nyawa manusia.....nyawa saudaramu sendiri.” Sang muridpun tertunduk malu.
“ Hidup ini penuh warna, setiap warna punya arti sendiri. Namun tidak semua bisa dibaca dengan mata biasa....harus dibaca dengan kejernihan mata hati, kebesaran jiwa, kelapangan dada. Kalau hanya soal hitam putih, semua orang pasti bisa membedakan, tapi kalau sudah beraneka warna sulit dan rumit untuk mengatakan manakah warna yang lebih indah dan mana yang kurang baik. Demikian juga soal kebenaran, dengan mudah, jelas dapat dibedakan dengan kejahatan. Namun acapkali persoalannya menjadi kabur kala kebenaran versi satu berhadapan dengan versi lainnya. Disinilah kejernihan mata hati yang harus menentukan. Renungkanlah !!!” Itulah nasihat dari Sang Guru Bijak pada si Putih.
Akhirnya si Putih merenung dan menyadari akan kebijakan Sang Guru. Dia belajar dan belajar untuk menjadi murid terbaik dari Sang Guru Bijak. Sayang si Putih usianya pendek, dia mati muda.
Si Putih menyakini bahwa 8 x 3 = 24, begitu pula si Bodoh merasa bahwa 8 x 3 = 23. Karena masing-masing merasa benar. Si Bodoh berani bertaruh dihadapan gurunya dengan nyawanya. Dia berani menggorok lehernya karena keyakinannya, tapi dia hanya meminta si Putih untuk melepaskan topinya jika si Putih yang kalah.
Akhirnya mereka meminta Sang Guru Bijak untuk menentukan mana yang benar. Dan ...... alangkah kagetnya si Putih dengan keputusan Sang Guru Bijak. Dia mengatakan yang benar adalah 8 x 3 = 23. Dengan penuh rasa kecewa si Putih membanting topinya karena merasa dibodohi oleh gurunya yang selama ini dia junjung tinggi. Respeknya terhadap Sang Guru merosot ke titik terendah. Akhirnya dia meninggalkan perguruannya karena dia tidak mau lagi hidup ditengah-tengah kebohongan, kemunafikan dan kepura-puraan. Saking kesalnya pada Sang Guru, si Putih pergi tanpa pamit dan berterimakasih. Sebelum pergi Sang Guru sempat bernasihat pada si Putih; “Jika dalam perjalanan terjadi hujan lebat, hati-hatilah dan jangan bernaung dibawah pohon besar, karena pohon itu akan tumbang dan menimpamu!”
Ditengah perjalanan terjadi hujan yang amat deras disertai angin kencang dan kilat yang menyambar –nyambar. Si Putih tercekat kaget manakala matanya melihat ada pohon besar diatasnya, secara reflek ia pun menghindar dari pohon besar tersebut. Dan tiba-tiba.......pohon besar itu tumbang diiringi suara gemuruh. Hampir saja si Putih tewas tertimpa pohon besar tersebut.
Atas kejadian tadi si Putih tersadar dan ingat atas nasihat terakhir Sang Guru dan mengakui bahwa Sang Guru bukanlah manusia biasa. Dia bisa membaca apa yang akan terjadi. Akhirnya ia berbalik arah dan kembali menuju rumah Sang Guru untuk meminta maaf dan minta diterima kembali sebagai murid.
Sesampainya di rumah Sang Guru, si Putih kaget karena Sang Guru sudah menunggu di depan pintu. Dia seolah tahu kalau muridnya akan kembali. Dengan tersenyum santai Sang Guru berkata “ Putih..., 8 x 3 ya 24, tapi kalau tadi kukatakan 8 x 3 = 24 maka kamu akan menyesal seumur hidup !!. Kamu akan merasa menjadi pembunuh saudaramu sendiri, sepanjang hayat penyesalan apapun tidak ada gunanya. Hidupmu akan tersiksa selamanya. 8 x 3 = 24 hanyalah kebenaran kecil, kebenaran matematis. Namun 8 x 3 = 23 dalam konteks tadi adalah kebenaran besar, karena menyangkut nyawa manusia.....nyawa saudaramu sendiri.” Sang muridpun tertunduk malu.
“ Hidup ini penuh warna, setiap warna punya arti sendiri. Namun tidak semua bisa dibaca dengan mata biasa....harus dibaca dengan kejernihan mata hati, kebesaran jiwa, kelapangan dada. Kalau hanya soal hitam putih, semua orang pasti bisa membedakan, tapi kalau sudah beraneka warna sulit dan rumit untuk mengatakan manakah warna yang lebih indah dan mana yang kurang baik. Demikian juga soal kebenaran, dengan mudah, jelas dapat dibedakan dengan kejahatan. Namun acapkali persoalannya menjadi kabur kala kebenaran versi satu berhadapan dengan versi lainnya. Disinilah kejernihan mata hati yang harus menentukan. Renungkanlah !!!” Itulah nasihat dari Sang Guru Bijak pada si Putih.
Akhirnya si Putih merenung dan menyadari akan kebijakan Sang Guru. Dia belajar dan belajar untuk menjadi murid terbaik dari Sang Guru Bijak. Sayang si Putih usianya pendek, dia mati muda.
PENDIDIKAN YANG MENJADI BOOMERANG
Seorang teman saya yang bekerja pada sebuah perusahaan asing, di PHKakhir tahun lalu. Penyebabnya adalah kesalahan menerapkan dosis pengolahan limbah, yang telah berlangsung bertahun-tahun. Kesalahan ini terkuak ketika seorang pakar limbah dari suatu negara Eropa mengawasi secara langsung proses pengolahan limbah yang selama itu dianggap selalu gagal. Pasalnya adalah, takaran timbang yang dipakai dalam buku petunjuknya menggunakan satuan pound dan ounce. Kesalahan fatal muncul karena yang bersangkutan mengartikan 1 pound = 0,5 kg. dan 1 ounce (ons) = 100 gram, sesuai pelajaran yang ia terima dari sekolah. Sebelum PHK dijatuhkan,temansaya diberi tenggang waktu 7 hari untuk membela diri dgn cara menunjukkan acuan ilmiah yang menyatakan 1 ounce (ons) = 100 g.
Usaha maksimum yang dilakukan hanya bisa menunjukkan Kamus Besar Bahasa Indonesia yang mengartikan ons (bukan ditulis ounce) adalah satuan berat senilai 1/10 kilogram. Acuan lain termasuk tabel-tabel konversi yang berlaku sah atau dikenal secara internasional tidak bisa ditemukan.
SALAH KAPRAH YANG TURUN-TEMURUN.
Prihatin dan penasaran atas kasus diatas, saya mencoba menanyakan hal ini kepada lembaga yang paling berwenang atas sistem takar-timbang dan ukur di Indonesia , yaitu Direktorat Metrologi. Ternyata, pihak Dir.Metrologi-pun telah lama melarang pemakaian satuan ons untuk ekivalen 100 gram. Mereka justru mengharuskan pemakaian satuan yang termasuk dalam Sistem Internasional (metrik) yang diberlakukan resmi di Indonesia . Untuk ukuran berat, satuannya adalah gram dan kelipatannya. Satuan Ons bukanlah bagian dari sistem metrik ini dan untuk menghilangkan kebiasaan memakai satuan ons ini, Direktorat Metrologi sejak lama telah memusnahkan semua anak timbangan (bandul atau timbal) yang bertulisan "ons" dan "pound".
Lepas dari adanya kebiasaan kita mengatakan 1 ons = 100 gram dan 1pound = 500 gram, ternyata tidak pernah ada acuan sistem takar-timbang legal atau pengakuan internasional atas satuan ons yang nilainya setara dengan 100 gram. Dan dalam sistem timbangan legal yang diakui dunia internasional, tidak pernah dikenal adanya satuan ONS khusus Indonesia. Jadi, hal ini adalah suatu kesalahan yang diwariskan turun-temurun.
Sampai kapan mau dipertahankan?
BAGAIMANA KESALAHAN DIAJARKAN SECARA RESMI?
Saya sendiri pernah menerima pengajaran salah ini ketika masih dibangku sekolah dasar. Namun, ketika saya memasuki dunia kerja nyata, kebiasaan salah yang nyata-nyata diajarkan itu harus dibuang jauh karena akan menyesatkan. Beberapa sekolah telah saya datangi untuk melihat sejauh mana penyadaran akan penggunaan sistem takar-timbang yang benar dan sah dikemas dalam materi pelajaran secara benar, dan bagaimana para murid (anak-anak kita) menerapkan dalam hidup sehari-hari. Sungguh memprihatinkan. Semua sekolah mengajarkan bahwa 1 ons = 100 gram dan 1pound = 500 gram, dan anak-anak kita pun menggunakannya dalam kegiatan sehari-hari.
"Racun" ini sudah tertanam didalam otak anak kita sejak usia dini. Dari para guru, saya mendapatkan penjelasan bahwa semua buku pegangan yang diwajibkan atau disarankan oleh Departemen Pendidikan Indonesia mengajarkan seperti itu. Karena itu, tidaklah mungkin bagi para guru untuk melakukan koreksi selama Dep. Pendidikan belum merubah atau memberi-kan petunjuk resmi.
TANGGUNG JAWAB SIAPA?
Maka, bila terjadi kasus-kasus serupa diatas, Departemen Pendidikan kita jangan lepas tangan. Tunjukkanlah kepada masyarakat kita terutama kepada para guru yang mengajarkan kesalahan ini, salah satu alasannya agar tidak menjadi beban psikologis bagi mereka ;"acuan sistem timbang legal yang mana yang pernah diakui / diberlakukan secara internasional , yang menyatakan bahwa :1 ons adalah 100 gram, 1 pound adalah 500 gram."?Kalau Dep. Pendidikan tidak bisa menunjukkan acuannya, mengapa hal ini diajarkan secara resmi di sekolah sampai sekarang? Pernahkan Dep. Pendidikan menelusuri, dinegara mana saja selain Indonesia berlaku konversi 1 ons = 100 gram dan 1 pound = 500 gram? Patut dipertanyakan pula, bagaimana tanggung jawab para penerbit buku pegangan sekolah yang melestarikan kesalahan ini ? Kalau Dep. Pendidikan mau mempertahankan satuan ons yang keliru ini, sementara pemerintah sendiri melalui Direktorat Metrologi melarang pemakaian satuan "ons" dalam transaksi legal, maka konsekwensinya ialah harus dibuat sistem baru timbangan Indonesia (versi Depdiknas).. Sistem baru inipun harus diakui lebih dulu oleh dunia internasional sebelum diajarkan kepada anak-anak.
Perlukah adanya sistem timbangan Indonesia yang konversinya adalah 1 ons (Depdiknas) = 100 gram dan 1 pound(Depdiknas) = 500 gram. ? Bagaimana "Ons dan Pound (Depdiknas)" ini dimasukkan dalam sistem metrik yang sudah baku diseluruh dunia ? Siapa yang mau pakai ?.
HENTIKAN SEGERA KESALAHAN INI.
Contoh kasus diatas hanyalah satu diantara sekian banyak problema yang merupakan akibat atau korban kesalahan pendidikan. Saya yakin masih banyak kasus-kasus senada yang terjadi, tetapi tidak kita dengar. Salah satu contoh kecil ialah, banyak sekali ibu-ibu yang mempraktekkan resep kue dari buku luar negeri tidak berhasil tanpa diketahui dimana kesalahannya. Karena ini kesalahan pendidikan, masalah ini sebenarnya merupakan masalah nasional pendidikan kita yang mau tidak mau harus segera dihentikan. Departemen Pendidikan tidak perlu malu dan basa-basi diplomatis mengenai hal ini. Mari kita pikirkan dampaknya bagi masa depan anak-anak Indonesia. Berikan teladan kepada bangsa ini untuk tidak malu memperbaiki kesalahan. Sekalipun hanya untuk pelajaran di sekolah, dalam hal Takar-Timbang-Ukur, Dep. Pendidikan tidak memiliki supremasi sedikitpun terhadap Direktorat Metrologi sebagai lembaga yang paling berwenang di Indonesia.
Mari kita ikuti satu acuan saja, yaitu Direktorat Metrologi. Era Globalisasi tidak mungkin kita hindari, dan karena itu anak-anak kita harus dipersiapkan dengan benar. Benar dalam arti landasannya, prosesnya, materinya maupun arah pendidikannya. Mengejar ketertinggalan dalam hal kualitas SDM negara tetangga saja sudah merupakan upaya yang sangat berat. Janganlah malah diperberat dengan pelajaran sampah yang justru bakal menyesatkan. Didiklah anak-anak kita untuk mengenal dan mengikuti aturan dan standar yang berlaku SAH dan DIAKUI secara internasional, bukan hanya yang rekayasa lokal saja. Jangan ada lagi korban akibat pendidikan yang salah. Kita lihat yang nyata saja, berapa banyak TKI diluar negeri yang berarti harus mengikuti acuan yang berlaku secara internasional. Anak-anak kita memiliki HAK untuk mendapatkan pendidikan yang benar sebagai upaya mempersiapkan diri menyongsong masa depannya yang akan penuh dengan tantangan berat.
ACUAN MANA YANG BENAR?
Banyak sekali literatur, khususnya yang dipakai dalam dunia tehnik, dan juga ensiklopedi ternama seperti Britannica, Oxford, dll. (maaf, inibukan promosi) menyajikan tabel-tabel konversi yang tidak perlu diragukanlagi. Selain pada buku literatur, tabel-tabel konversi semacam itu dapat dijumpai dengan mudah di-dalam buku harian / diary/agenda yang biasanya diberikan oleh toko atau produsen suatu produk sebagai sarana promosi. Salah satu konversi untuk satuan berat yang umum dipakai SAH secara internasional adalah sistem avoirdupois / avdp. (baca : averdupoiz).
1 ounce/ons/onza = 28,35 gram (bukan 100 g.)
1 pound = 453 gram (bukan 500 g.)
1 pound = 16 ounce (bukan 5 ons)
Bayangkan saja, bagaimana jadinya kalau seorang apoteker meracik resep obat yang seharusnya hanya diberi 28 gram, namun diberi 100 gram. Apakah kesalahan semacam ini bisa di kategorikan sebagai malapraktek ?Pelajarannya memang begitu, kalau murid tidak mengerti, dihukum !!! Jadi, kalau malapraktik, logikanya adalah tanggung jawab yang mengajarkan.(ini hanya gambaran / ilustrasi salah satu akibat yang bisa ditimbulkan,bukan kejadian sebenarnya, tetapi dalam bidang lain banyak sekali terjadi)
KALAU BUKAN KITA YANG MENYELAMATKAN - LALU SIAPA ?.
Melalui tulisan ini saya ingin mengajak semua kalangan, baik kalangan pemerintah, akademis, profesi, bisnis / pedagang, sekolah dan orang tua dan juga yang lainnya untuk ikut serta mendukung penghapusan satuan "ons dan pound yang keliru" dari kegiatan kita sehari-hari. Pengajaran sistem timbang dgn satuan Ounce dan Pound seharusnya diberikan sebagai pengetahuan disertai kejelasan asal-usul serta rumus konversi yang benar. Hal ini untuk membuang kebiasaan salah yang telah melekat dalam kebiasaan kita, yang bisa mencelakakan / menyesatkan anak-anak kita, generasi penerus bangsa ini.
# # # # #
Tulisan ini akan dikirimkan kepada media masa, baik cetak maupun elektronik yang mau menyiarkannya demi kepentingan bangsa. Dipersilahkan mengubah formatnya sesuai dengan ketentuan penyiaran masing-masing. Juga kepada sekolah-sekolah, pabrik-pabrik serta LSM dan masyarakat umum, untuk diketahui secara luas. Bila anda merasa sependapat dengan saya, setuju untuk menghentikan kesalahan ini demi masa depan anak bangsa Indonesia , silahkan diperbanyak/ difoto copy dan disebar-luaskan sendiri. Bila anda ragu-ragu terhadap kebenaran tulisan ini, silahkan menanyakannya langsung kepada Direktorat Metrologi atau Balai Metrologi setempat dikota anda berada. Terima kasih saya ucapkan kepada anda yang peduli dan mauberpartisipasi menyelamatkan masa depan anak-anak Indonesia.
SemogaTuhan memberkati upaya ini, yang kita lakukan dengan tulus ikhlas tanpa pamrih sedikitpun
Langganan:
Entri (Atom)